jump to navigation

China Berperang Melawan Hujan April 9, 2008

Posted by wacanbocah in Sains.
Tags: , ,
trackback

Setiap musim kemarau, pemerintah China menembakkan ribuan roket dan meriam ke angkasa. Ada apa, terjadi perangkah? Mereka memang tengah berperang. Bukan dengan negara lain melainkan melawan cuaca.

Perang itu merupakan bagian dari Program Modifikasi Cuaca yang dijalankan Akademi Ilmu Meteorologi. Pemerintah mengandalkannya untuk meningkatkan curah hujan terutama di musim kemarau.
China merupakan negara dengan populasi penduduk sangat besar, mencapai 1,3 milyar jiwa. Udara di atas Beijing selalu terkontaminasi polusi. Hujan sangat berguna untuk melarutkan polutan. Hujan juga membantu petani dan mengisi cadangan irigasi di waduk-waduk.
Setiap tahun sebanyak 12 ribu peluncur roket dan 30 pesawat dikerahkan untuk menciptakan hujan buatan. China telah mengadakan riset sejak tahun 1958, namun penerapannya baru dilakukan beberapa tahun ini. Proyek ini menghabiskan dana 90 juta dolar Amerika Serikat (sekitar 890 milyar rupiah) setiap tahun.
Tiga Model
Bagaimana caranya? Perak ionida ditembakkan ke langit atau disebarkan dengan pesawat. Ini disebut dengan pembibitan awan. Zat kimia tersebut mengikat uap air menjadi awan, kemudian menjadi butiran. Selanjutnya jatuh ke tanah menjadi hujan.
Pemerintah mengklaim proyek ini berhasil. Tingkat elevasi (ketinggian air) di waduk meningkat 13% setelah program ini dijalankan.
Tak puas menciptakan hujan buatan, mereka berencana mencegah hujan. Itu akan dilakukan pada 8 Agustus 2008, bertepatan dengan upacara pembukaan olimpiade musim panas. Mereka menjamin pada hari itu, langit akan cerah tanpa setitik pun awan. Bagaimana caranya? Dengan menggenjot hujan buatan sehari sebelumnya. Karena konsentrasi air di udara telah terkuras, maka potensi hujan juga melemah.
Negara lain yang menjalan program modifikasi cuaca di antaranya Amerika Serikat, Rusia, Thailand, Afrika Selatan, dan Australia. Amerika Serikat menjalankannya sejak 1946, difokuskan di Texas dan Oklahoma yang panas.
Ada tiga model pembibitan awan: statis, dinamis, dan hygroskopik. Model statis adalah dengan menyebarkan perak ionida seperti di China. Model dinamik dengan memompa udara secara vertikal yang membawa uap air sebagai bahan baku hujan. Sedangkan model higroskopis dengan menaburkan garam ke lapisan awan.
Para ilmuwan sesungguhnya meragukan efektifitas program itu. Tidak jelas, apakah hujan memang tercipta cmpur tangan manusia atau terjadi secara alami. Pada kenyataannya, tingkat keberhasilan hujan buatan hanya 10%. Tergantung banyak faktor seperti suhu dan komposisi awan. Faktor-faktor pencipta hujan juga belum diketahui secara rinci. Pemerintah Australia masih meneliti, mengapa proyek hujan buatan di Tasmania lebih sering berhasil di kota lain. Lagipula, biaya program ini sangat mahal.
Beberapa negara mulai mengalihkan proyek hujan buatan dengan pembuatan sistem irigasi. Misalnya membangun bendungan, waduk, dan sistem irigasi modern. Ini lebih efektif untuk menyediakan air bersih bagi masyarakat.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: