jump to navigation

Kotak Hitam Kok Warnanya Jingga? Mei 13, 2008

Posted by wacanbocah in Sains, Teknologi.
Tags: , , ,
trackback

Dalam berbagai peristiwa kecelakaan pesawat terbang, banyak misteri tak terungkap mengapa pesawat jatuh. Petugas investigasi mencoba mencari jawabnya dengan menganalisa kotak hitam pesawat. Apa sebenarnya kotak hitam itu dan bagaimana cara kerjanya?
Meski bernama “kotak hitam”, kebanyakan kotak itu dicat warna jingga. Jingga merupakan warna yang mudah dilihat mata, sehingga gampang ditemukan jika kotak hitam jatuh di laut atau terendam lumpur. Yang dimaksud kotak hitam adalah dua buah kotak yang digunakan menyimpan rekaman suara-suara di kokpit (cockpit voice recorder = VCR) dan data penerbangan (flight data recorder = FDR). Kedua kotak itu diletakkan di bagian ekor pesawat. Mereka terhubung dengan dengan beragam sensor dan mikropon yang sebagian besar berada di bagian kokpit (ruang pilot).

Perekam suara (VCR) di ekor pesawat dihubungkan dengan beberapa mikropon yang dipasang di kokpit. Selain untuk merekam percakapan antara pilot dan kopilot, mikropon juga dirancang dapat merekam suara bising di pesawat, seperti lemparan benda, ketukan, atau suara gedebuk. Biasanya berjumlah empat buah, yang dipasang pada headset pilot, kopilot, kru pembantu (jika ada), dan tengah kokpit. Suara-suara dalam kokpit direkam secara kontinu untuk durasi 30 menit. Setelah kapasitas VCR penuh (30 menit), data perekaman yang baru menimpa data yang lama. Beberapa VCR model baru bisa merekam dengan durasi lebih lama, yakni 2 jam.
Berbeda dengan VCR yang merekam suara, FDR terhubung dengan ratusan sensor yang tersebar merata di bagian-bagian pesawat. FDR dirancang untuk merekam berbagai variabel dan parameter pesawat. Hampir semua variabel dapat direkam, bahkan ketika pilot menekan suatu tombol pun, terekam dalam FDR. Di Amerika, ada ketentuan FDR minimal dapat merekam 29 atau 88 parameter penerbangan. Pada kenyataannya, FDR model baru dapat merekam sekitar 700 parameter.
Beberapa parameter utama yang direkam FDR di antaranya waktu, tekanan udara, kecepatan, percepatan vertikal, arah penerbangan, konfigurasi sayap, suhu di luar pesawat, suhu dalam kabin, performa mesin, kemudi, stabiliser horisontal, dan ketersediaan bahan bakar. Berbagai parameter itu akan membantu tim investigasi mengungkap penyebab jika pesawat mengalami celaka.
Kedua kotak hitam dioperasikan menggunakan salah satu dari dua catu daya, yakni generator DC 28-volt dan generator AC 115 volt. Jika salah satu sumber generator mati, generator kedua otomatis mengggantikannya.
Dalam musibah Lion Air di Surakarta, kotak hitam pesawat sudah ditemukan. Namun bukan berarti penyebab kecelakaan bisa diungkap dengan segera. Persoalannya, Indonesia belum memiliki alat untuk menganalisa kotak hitam. Indonesia berencana mengirim kotak hitam itu ke pabrik pembuatnya di Amerika.
Model Pita Kaset
Wright bersaudara telah lama mempelopori penggunaan kotak hitam untuk merekam perputaran baling-baling pesawat. Namun, sampai perang dunia II, penggunaan kotak hitam belum meluas. Setelah PD II usai, penggunaan kotak hitam yang memuat lebih banyak data penerbangan dikembangkan untuk pesawat komersial.
Sampai saat ini, masih banyak kotak hitam model lama yang menggunakan pita kaset, sama seperti yang dipakai pada tahun 1960-an. Pita kaset bekerja seperti kaset tape yang banyak digunakan untuk memutar lagu. Kotak hitam model baru menggunakan material yang lebih padat dan kuat. Sebagai penyimpan data, digunakan chip memori yang dapat merekam lebih banyak data. (Panji).

Komentar»

1. ariel4ever - Mei 16, 2008

Makasih Nih Infox ….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: