jump to navigation

Bagaimana Berkelit dari Lie Detector? September 7, 2008

Posted by wacanbocah in Pengetahuan, Sains, Sosial, Teknologi.
Tags: , , , , ,
trackback
Pendeteksi Kebohongan

Pendeteksi Kebohongan

Boleh nggak, berbohong di bulan puasa? Yee…, nggak bulan puasa juga tetap tak boleh bohong. Awas, kalau nekat berbohong, kamu bisa dideteksi lie detector alias alat pendeteksi kebohongan. Bagaimana cara kerjanya?

Manusia berbohong untuk beragam alasan. Menurut ilmu psikologi berbohong merupakan alat pertahanan untuk menghindari masalah. Para terdakwa korupsi atau kriminal cenderung berbohong untuk menghindari (atau setidaknya meringankan) jerat hukum.

Sesekali seseorang bisa mendeteksi kebohongan orang lain dengan melihat prilakunya yang tak wajar. Namun seringkali tidak. Polygraphs atau disebut juga “lie detector” merupakan alat untuk mengukur reaksi psikologi manusia. Meski bernama lie detector (alat pendeteksi kebohongan), alat ini sebenarnya sama sekali tidak bisa mendeteksi kebohongan. Alat ini hanya mendeteksi kelakuan manusia dan menghitung peluang apakah kelakuan atau gelagat itu merupakan indikasi kebohongan.

Polygraph pada dasarnya merupakan kombinasi peralatan kedokteran yang dihubungkan dengan layar monitor untuk mengukur gelagat tubuh manusia. Saat “terdakwa” ditanyai suatu peristiwa, peneliti mengukur bagaimana detak jantung, tekanan darah, irama nafas, dan aspek lain seperti keringat dingin. Hasil itu kemudian dibandingkan dengan pengukuran pada keadaan normal. Jika terpaut jauh dengan kondisi normal, kemungkinan besar si terdakwa berbohong.

Polygraph sering dihubungkan dengan investigasi kriminal, tetapi juga digunakan uintuk hal lain. Sekarang polygraph juga digunakan untuk wawancara pekerjaan.

Tes polygraph didesain untuk melihat prilaku tubuh manusia saat dalam kondisi tertekan. Alat ini tidak dapat secara spesifik mendeteksi apakah seseorang berbohong atau tidak.

Mesin Polygraph

Pada awalnya, mesin polygraph mempunyai keluaran berbentuk jarum yang menulis grafik pada gulungan kertas. Itu disebut analog polygraph. Dewasa ini, gulungan kertas diganti dengan monitor pada komputer.

Saat seseorang tester duduk di kursi polygraph, beberapa tabung dan kabel digubungkan ke tubuh pada beberapa tempat yang spesifik untuk mengamati aktivitas psikis. Prilaku pura-pura atau bohong biasanya memicu perubahan psikologi yang dapat dideteksi oleh polygraph dan observer, yang disebut psikolog forensik. Pengetes melihat pada sejumlah aktivitas psikologi yang berfluktuasi. Berikut daftar aktivitas psikologis yang dimonitor oleh polygraph dan bagaimana itu dimonitor.

Kecepatan pernafasan: dua tabung karet diisi dengan udara, dipasang di sekeliling perut dan dada orang yang dites. Ketika otot dada atau perut berkembang, udara dalam tabung karet terdesak. Polygraph akan menghitung energi yang digunakan untuk mendesak udara dalam tabung. Orang yang berbohong, biasanya nafasnya tak beraturan.

Tekanan darah dan detak jantung: Tabung pengukur tekanan darah dipasang di bawah lengan objek. Orang yang bohong, tekanan darahnya cenderung tinggi.

Suhu tubuh: Alat ini digunakan untuk mengukur aktivitas thermal (panas) pada tubuh manusia. Caranya dengan mengukur volume keringat pada ujung jari. Ujung jari merupakan daerah yang paling menyerap keringat sehingga merupakan daerah yang baik untuk diukur. Idenya adalah, manusia banyak memproduksi keringat ketika stres. Alat ini merupakan pengukur arus listrik. Semakin basah ujung jari (karena keringat), semakin besar arus listrik yang mengalir karena keringat merupakan konduktor (penghantar listrik).

Bisa Dibohongi?

Apakah lie detector dapat mendeteksi kebohongan seseorang? Tak ada alat yang bisa mendeteksi kebohongan. Polygraph hanya mengukur reaksi psikologis manusia sebagai indikasi seseorang berbohong atau tidak. Seorang pembohong “kelas kakap” mungkin bisa bersikap sangat tenang sehingga reaksi psikologisnya tak terdeteksi. Dalam hal ini, operator polygraph mesti benar-benar berpengalaman.

Hanya ada dua orang yang berada dalam ruang tes, yakni objek yang diperiksa dan pengetes yang disebut psikolog forensik. Biasanya, yang dites adalah pelaku kejahatan yang bersikukuh dirinya tidak bersalah. Mereka bisa mengelabuhi polisi dengan menampakkan wajah “tak berdosa”. Pengetes harus bertindak netral, ia tak boleh menduga-duga. Selain menyiapkan piranti lie detecter, observer juga menyiapkan daftar pertanyaan yang biasanya berkaitan dengan kasus yang dihadapi “terdakwa”.

Mungkinkah alat pendeteksi kebohongan dibohongi? Kadangkala, orang bisa berkelit dari polygraph. Mereka tahu cara kerja polygraph sehingga bisa melakukan antisipasi. Bahkan, di beberapa situs internet dijual buku pedoman agar lolos dari lie detector. Beberapa trik yang diakukan adalah menelan obat penenang, mengoleskan cairan penyerap keringat di ujung jari, memasangpaku atau lem di sepatu (agar kaki lengket ke tanah), atau menggigit lidah atau jari. Panji Satrio.

Komentar»

1. novi - Oktober 8, 2008

pengen juga deh ngebohongin alat ini hehehehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: