jump to navigation

Wayang Kulit: Bioskop dari Masa Lalu Maret 15, 2009

Posted by wacanbocah in Sains.
trackback

Rakyat Indonesia pantas berbanggga hati karena Unesco menetapkan wayang Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Ini berarti dunia mengakui nilai budaya dalam kesenian adiluhung tersebut. Mengapa anak-anak Indonesia sendiri enggan menonton wayang?
***
Alkisah, menjelang peresmian masjid agung Demak, terjadi pertentangan sengit antara Sunan Giri dengan Sunan Kalijaga. Sunan Giri merupakan tokoh yang menginginkan penerapan ajaran Islam secara murni, tidak tercampur ritual Hindu.


Sunan Kalijaga berpandangan sebaliknya, untuk menarik simpati rakyat yang kala itu sebagian besar beragama Hindu, para wali mesti bersikap toleran terhadap budaya Jawa. Untuk itulah, Sunan Kalijaga berencana menggelar pertunjukkan wayang dalam peresmian masjid, agar rakyat menonton, kemudian diperkenalkan dengan ajaran Islam.

Wayang Warisan LeluhurWayang Warisan LeluhurWayang Warisan LeluhurKala itu para pengikut Sunan Giri beranggapan gamelan dan wayang haram karena berbau Hindu. Pertentangan di antara walisongo itu mempunyai pengaruh penting terhadap perkembangan wayang itu sendiri. Untuk menghilangkan kesan berbau Hindu, timbul gagasan menciptakan wayang “model baru”. Walisongo menciptakan wayang dari kulit kerbau, yang bentuknya tidak menyerupai karakter manusia.
Di samping bentuk wayang, teknik pementasannya juga diubah, yakni dengan mempergunakan kelir (layar) yang disorot blencong (lampu). Penonton menyaksikan wayang dari belakang kelir. Dari belakang kelir, pentas wayang bagaikan layar bioskop. Arah pencahayaan (blencong) diatur sedemikian rupa sehingga bayangan dalang tidak kelihatan dan wayang seperti bergerak sendiri.
Ada banyak versi mengenai asal mula wayang di Indonesia. Salah satunya menyebutkan, mula-mula wayang diciptakan oleh Raja Jayabaya dari Kerajaan Mamenang (Kediri). Sekitar abad ke-10 Raja Jayabaya ingin menciptakan gambaran roh leluhurnya melalui goresan pada daun lontar. Bentuk wayang tersebut ditiru dari relief cerita Ramayana di Candi Penataran di Blitar.
Versi lain menyebutkan, wayang secara etimologi berasal dari kata “bayang-bayang”. Awalnya berfungsi sebagai alat komunikasi dengan roh leluhur, dengan dalang sebagai perantaranya. Peninggalan yang memberikan bukti sejarah wayang adalah Prasasti Belitung tahun 907. Naskah wayang pertama berjudul Arjuna Wiwaha karangan Mpu Kanwa di zaman kerajaan Kediri.

Lakone Opo?
Cerita wayang diambil dari epik Ramayana dan Mahabarata. Ramayana berisi cerita perjuangan Rama merebut kembali istrinya Dewi Sinta yang diculik raja raksasa bernama Rahwana. Epik Mahabarata merupakan kisah perang besar di padang kurusetra antara Pandawa (simbol kebaikan) melawan Kurawa (simbol kejahatan). Kedua epik ini ceritanya sangat panjang dengan alur berliku-liku. Dalang tidak memainkan epik itu secara keseluruhan, melainkan hanya mencuplik salah satu babak yang biasa disebut dengan “lakon”.
Dalam epik Ramayana, misalnya, dalang bisa memainkan lakon Rama Tambak (kisah saat Rama membendung lautan agar pasukannya dapat menyeberang ke Alengka), Anoman Obong (saat Anoman mengamuk di Negeri Alengka), atau Kumbakarna Gugur (matinya Kumbakarna). Pada epik Mahabarata, dapat ditemui lakon Kresna Duta, Petruk Dadi Ratu atau Laire Gathutkaca.
Dalam pementasan wayang, urutan adegan cenderung sama. Biasanya terdiri atas (1) jejer pertama, (2) perang ampyak,(3) jejer kedua, (4) perang sintang, (5) goro-goro (humor punawakan), (6) perang kembang, (7) sintren, (8) perang ankep, (9) jejer ketiga, dan (10) perang gede.
Salah satu babak yang ditunggu-tunggu penonton adalah goro-goro. Para Punakawan yang terdiri Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong tampil membanyol dan memberikan humor.
Wayang diakui Unesco sebagai warisan budaya karena berisi cerita dan falsafah hidup masyarakat Jawa yang adiluhung. Setiap wayang memiliki karakter, prilaku dan watak yang khas. Karakter wayang, yang dikemas dalam bentuk simbol, merupakan gambaran watak manusia. Misalnya tokoh Rahwana digambarkan memiliki 10 wajah (dasamuka), itu merupakan simbol dari sifat serakah dan tidak punya rasa malu.
Dalam cerita wayang terjadi pertentangan antara kebenaran melawan kejahatan. Seperti film-film kartun kesukaanmu, pada akhirnya kebenaran berhasil mengalahkan kejahatan.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: